Membangun Pasraman Hindu Nusantara Bertaraf Internasional

Bagikan

Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-53 Prajaniti, Prajaniti Hindu Indonesia bekerja sama dengan Dosen Hindu Indonesia menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Membangun Pasraman Hindu Nusantara Bertaraf Internasional” pada Minggu, 6 Juni 2021. Webinar ini merupakan webinar pertama dari seri empat webinar yang akan diadakan selama bulan Juni 2021.

I Gede Sumantra, S.T sebagai moderator

Webinar yang dipandu oleh I Gede Sumantra, S.T., Wakil Sekjen Bidang Pendidikan & Pengembangan SDM DPP Prajaniti, sebagai Moderator menghadirkan 3 narasumber yaitu Dr. Made Mangku Pastika, MM, Drs. Agus Wijaya, S.Pd.,S.Ag.,M.M.,M,Si., dan Drs. Suminto, M.M. Lebih dari 200 peserta dari beragam profesi bergabung pada webinar ini.

 

Dalam rangkaian pembukaan webinar, Ketua Umum DPP Prajaniti KS Arsana dan Prof.Dr. I Ketut Subagiasta, Ketua Dewan Penasehat DPP Dosen Hindu Indonesia memberikan sambutan dalam Webinar ini. Lalu dilanjutkan kata pengantar oleh Dirjen Bimas Hindu, Dr. Tri Handoko Seto, S.Si., M.Sc memberikan kata pengantar yang menyampaikan Dirjen Bimas Hindu menyambut baik kegiatan webminar ini dan mengharapkan agar seminar ini menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang bermanfaat bagi kemajuan pasraman di Indonesia. Disampaikan pula bahwa umat Hindu di Indonesia mempunyai banyak sekali orang-orang hebat, orang orang cerdas, dan pengusaha-pengusaha sukses, dan apa bila ketiga unsur ini bisa bekerjasama dengan baik maka pendirian pasraman-pasraman akan bisa terwujud dengan cepat. Dirjen Bimas Hindu akan memberikan dukungan secara maksimal sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya.

 

Dr. Made Mangku Pastika sebagai narasumber 1.

Sesi pertama webminar diisi oleh Keynote Speaker Dr. Made Mangku Pastika, MM, mantan Gubernur Bali dua periode yang saat ini masih aktif sebagai anggota DPD RI asal Bali dan juga sebagai Presiden World Hindu Parisadh, yang membawakan materi berjudul Membangun Pasraman (Sekolah) Hindu Nusantara Bertaraf Internasional. Mengawali sesi, Mangku Pastika mengajak para peserta menyaksikan tayangan profil sekolah SMA Taruna Mandara, sebuah sekolah yang beliau prakarsai dengan semangat membantu anak-anak dari keluarga miskin agar bisa mengenyam pendidikan yang baik dan berkualitas, dan sebagai cara beliau membayar hutang kepada Hyang Widhi atas segala anugerah yang diberikan kepada beliau. Sekolah Taruna Mandara ini meskipun baru telah menorehkan prestasi yang baik dan mampu membawa lulusannya bersaing dan masuk dalam perguruan tinggi nasiolan dan internasional. Berkesempatan memberikan testimoni pada sesi tersebut, Dr. Ketut Donder, yang menyampaikan begitu terharu dan menghargai perjuangan Mangku Pastika mendirikan sekolah tersebut dengan tujuan membantu anak-anak dari keluarga miskin melalui sekolah tersebut bisa bertransformasi menjadi anak-anak yang berdisiplin, tangguh, dan berprestasi. Di bagian akhir sesi pertama, Mangku Pastika  menggarisbawahi bahwa kebodohan melahirkan kemiskinan, orang-orang miskin mempunyai akses yang terbatas pada fasilitas pendidikan yang baik maupun fasilitas kesehatan, sulit mendapat gizi yang baik sehingga mereka akan melahirkan kebodohan kembali. Lingkaran ini harus segera diputus dengan memberikan kesempatan pendidikan yang baik kepada anak-anak miskin dan mengajak para pengusaha dan orang-orang kaya untuk bersumbangsih mendirikan pasraman-pasraman yang bermutu agar menghasilkan generasi muda Hindu yang cerdas dan tangguh sehingga bisa memutus mata rantai kemiskinan.

Mangku Pastika juga menyampaikan saat ini buku-buku pelajaran agama Hindu yang beredar untuk anak-anak sekolah kurang menarik dan sering tidak sesuai dengan kategori umur menyebabkan merka bosan dan malas untuk membacanya. Karena itu pihak-pihak terkait perlu membuat buku-buku pelajaran agama Hindu yang menarik isinya, eye-catching tampilannya, dan disesuaikan dengan katerori umur pembacanya.

 

Drs. Agus Wijaya, S.Pd., S.Ag., M.M., M.Si. sebagai narasumber 2.

Sesi kedua diisi oleh Drs. Agus Wijaya, S.Pd., S.Ag., M.M., M.Si., pegiat pendidikan, seorang dosen di Politeknik UBAYA yang juga Ketua Umum DPP Dosen Hindu Indonesia (DHI). Dengan semangat berapi-api Agus Wijaya memaparkan materi berjudul Pasraman (Sekolah) Hindu Nusantara – Kurikulum, Sistem, dan Metodologi. Dengan lantang Agus Wijaya mengajak kita begerak maju dengan cepat melakukan perubahan dari pasraman non-formal menuju pasraman formal. Hari ini pasraman nempel di pura maka ke depan pasraman harus besar dan luas serta ada pura di dalamnya. Beliau mengajak kita semua untuk membangun pasraman yang memiliki fasilitas lengkap dengan asrama untuk sisya (murid) dan acarya (guru), dengan pelajaran yang sesuai kurikulum Nasional dan Internasional, didukung teknologi, serta kemapuan berbahasa lokal, Indonesia, Inggris, dan Sansekerta. Pasraman Hindu harus mampu mentransformasikan ajaran Tri Hita Karana ke dalam kurikulum sekolah sehingga para siswa mempunyai kecerdasan secara spiritual yang memahami agama Hindu secara baik dan rajin melakukan peribadatan, mempunyai kecerdasaan kemanusiaan sehingga mampu bergaul secara sosial saling menghormati dan membangun jaringan yang luas, serta mempunyai kecerdasan lingkungan belajar dari alam memanfaatkan alam untuk menjaga kelestarianya serta memanfaatkannya untuk kemakmuran bersama. Di akhir sesi Agus Wijaya meyakinkan semua peserta bahwa kita mampunyai SDM yang unggul dan cukup untuk bisa membangun pasraman formal yang berkualitas dan unggul baik skala nasional maupun internasional.

 

Drs. Suminto MM, sebagai narasumber 3.

Pemateri pada sesi ketiga adalah Drs. Suminto MM,  Ketua Bidang Pendidikan & Pengembangan SDM DPP Prajaniti. Suminto membawakan topik Analisis Implementasi Kebijakan Pendidikan Hindu yang menyoroti PP 55 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Agama PMA No. 56 Tahun 2014 yang diperbaharui dengan PMA No. 10 Tahun 2020. Suminto melihat kenyataan bahwa guru-guru agama Hindu masih sangat kurang terutama pada sekolah-sekolah di luar Bali. Hal ini mengindikaskan pemerintah telah gagal memenuhi Pasal 14 PP 55/2007 di mana mewajibkan pemerintah atau pemerintah daerah menyediakan guru agama. Begitu juga Suminto melihat pemerintah melalui PMA ini kurang berpihak kepada pasraman-pasraman Hindu karena tidak memberikan dukungan pembiayaan baik untuk pembangunan pasraman maupun untuk kegiatan belajar mengajar. PMA ini hanya menekankan peran serta masyarakat dalam hal pendanaan dan sumber-sumber yang sah lainnya. Pemerintah seakan-akan lepas tangan terhadap pasraman Hindu dan tidak ikut bertanggung jawab terhadap pembiayaan. Karena itu perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap PMA tersebut dan semua stakeholder mendesak agar menteri agama melakukan revisi dan memasukkan tanggung jawab pemerintah dalam pendanaan pasraman baik melalui APBN maupun APBD. Di sisi lain Suminto melihat pemakaian istilah pasraman pada pasal 1 berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di kalangan umat Hindu, karena itu para tokoh-tokoh, organisasi, dan institusi Hindu perlu memberikan penjelasan dan sosialisasi agar tidak terjadi konflik internal akibat kesalah-pahaman di masyarakat. Lebih lanjut Suminto mengusulkan agar pasraman-pasraman selain mengembangkan keahlian agama juga mengajarkan keahlian khusus yang diperlukan oleh dunia profesi maupun bisnis seperti agribisnis, robotic, kecerdasan buatan (AI), kedokteran Weda, diplomasi damai (HI), dan lain-lain. Suminto juga menyampaikan secara demografi umat yang tersebar di seluruh Indonesia dalam jumlah kelompok-kelompok kecil memang menimbulkan kesulitan tersendiri dalam hal pendirian pasraman, namun dengan tekad dan semangat bersama, tentunya pasti akan bisa diwujudkan.

Begitu menarik dan hangatnya topik yang dibahas dalam webinar ini, waktu yang dialokasikan Panitia selama 4 jam dipandang belum cukup oleh peserta. Akhirnya, waktu webinar ditambah menjadi 5 jam.

Memenuhi harapan KS Arsana selaku Ketua Umum DPP Prajaniti pada Sambutan Pembukaan webinar yang menyampaikan “Semoga dari webinar ini kita semua bisa melakukan konsolidasi pemikiran dan konsolidasi aksi nyata untuk ke depan membuat pasraman di seluruh Indonesia yang menghasilkan SDM-SDM unggul bagi kemajuan bangsa dan peradaban dunia”, pada akhir webinar disepakati dan dibentuk Tim Kerja yang berjumlah 10 orang. Tim Kerja ini dapat diperbanyak, yang nantinya bertugas menindaklanjuti hasil-hasil webinar agar menjadi aksi-aksi nyata baik dalam bentuk kurikulum, badan penyelenggara pendidikan, hingga membuat pilot project pendirian dan pengelolaan pasraman dan/atau sekolah bercirikan Hindu.

(Gede Sumantra, AA Indah Pitasari/Jakarta)

[telah dibaca 56 kali]


Bagikan